Tampilkan postingan dengan label [Review Anime]. Tampilkan semua postingan

[Review Anime] Mikakunin de Shinkoukei

Kiri ke kanan: Mashiro, Benio, Kobeni
 Basic Information: http://anidb.net/perl-bin/animedb.pl?show=anime&aid=10110



Ngelantur Sebentar:

未確認で進行形; Mikakunin de Shinkoukei.
Jika diterjemahkan, arti frasa tersebut termasuk aneh. Kenapa? Karena kata 'shinkoukei' di sini sebenernya adalah suatu istilah dalam grammar, menunjukkan suatu bentuk continuous/progresif (misalnya, continuous tense kalo dalam English). Entah apakah dalam bahasa Jepangnya sendiri kata tersebut lebih umum digunakan seperti itu, saya nggak tau. Tapi jika ya, maka si pembuat mangaoriginalnya sudah berhasil membuat suatu keanehan tingkat gaib di dunia perjudulan. So if we take it purely literal, maka artinya adalah "Continuous Aspect by the Unconfirmed". (what the...?)

Tapi demi perdamaian dunia dan keselamatan umat manusia, judul official-nya dalam bahasa Inggris menjadi Engaged to the Unidentified. Dalam bahasa Indonesia, Bertunangan dengan Makhluk Tak Teridentifikasi/Tak Diketahui. Panjang juga kalo diterjemahin. @__@

Mungkin ini adalah salah satu anime yang bisa dikatakan "asal tembak". Random choice. Tapi anime ini sukses memikat hati saya hanya dalam beberapa episode awal!! Dengan cuteness nyaris di tiap episodenya, sayapun jadi ngikutin sampai akhir.

So, let's go to the review!

Ugh, aku mendeteksi bau-bau loli di anime ini...



Sinopsis:

Yonomori Kobeni, cewek yang baru saja berulang tahun yang ke-16, mendapat sebuah "hadiah" istimewa. Tak disangka-sangka, hadiah tersebut adalah sebuah pertunangan dengan seorang cowok seusianya, Mitsumine Hakuya. Hakuya pun pindah dari kampungnya dan menetap serumah dengan Kobeni, membawa serta adik perempuannya, Mitsumine Mashiro.

Tapi... ada sesuatu yang mencurigakan di balik pertunangan tersebut!
Tuh kan bener mencurigakan! Ada loli. LOLI! (I keep subtitles intact on purpose)



Review:


Kalo boleh jujur, sebenernya saya *awalnya* agak skeptis dengan anime yang satu ini. Ada dua alasan. Pertama, ide ceritanya nggak menarik, polos, dan terlalu mainstream. Kedua, karakter-karakter dalam gambar yang saya temukan sebelum animenya tayang juga kelihatan nggak menarik. Bukan dari segiartwork, tapi saya merasa... they look bland, dengan dugaan awal kalo kepribadian mereka akan biasa-biasa aja.

Dan saya salah. TOTAL.

Langsung ke kelebihan!
Aku ngga mau difoto! Aku maunya selfie! #lolisalahdidik

Kelebihan pertama adalah counter-argument untuk poin keraguan saya yang pertama. Idenya memang biasa, namun eksekusi plotnya tidak biasa!

Engagement ataupun arranged marriage adalah hal yang tidak terlalu langka untuk menjadi topik dalam sebuah anime romance. Tapi bagaimana kalau pertunangan itu dilatarbelakangi kejadian misterius di masa lalu, yang menyebabkan Hakuya tidak mau menjalin cinta dengan siapapun kecuali Kobeni seorang? Bagaimana juga kalau ternyata Hakuya bukan cowok yang biasa-biasa aja dalam terminologi seorangmanusia normal?

Hebatnya, ide sederhana tersebut berhasil diceritakan dalam pace yang ideal. Segala misteri diungkap dalam kadar yang pas tiap episodenya.

Saya punya analogi sederhana. Sebuah cerita (dalam media apapun) bisa dianalogikan dengan masakan. Ide cerita dapat diumpamakan "bahan utama/main ingredient", eksekusi plot adalah "tingkat kematangan", sementara hal yang lain-lain adalah "bumbu dan bahan pelengkap". Terkadang ada sebuah cerita dengan "bahan utama" luar biasa unik, namun karena "dimasak" secara tidak tepat, maka cerita tersebut nggak terasa nikmat secara maksimal.

Nah, Mikakunin de Shinkoukei termasuk ke dalam anime dengan "bahan utama" yang murah dan sederhana (anggaplah kayak tahu, tempe, kangkung, ayam, dst dst --- bukan salmon, wagyu beef, dst dst), TETAPI "dimasak" dengan cukup baik, plus "bumbu dan bahan pelengkap" yang cocok. Maka jadilah anime yang maknyus. d(≧∀≦)
Sepertinya saya punya hobi yang sama dengan Hakuya. *pukpuk kepala someone*

Kelebihan kedua!

Ini berhasil menjatuhkan poin keraguan saya yang kedua. Karakter-karakter utamanya diceritakan secara menarik!

Kobeni dengan senjata andalan berupa dua buah rocket launcher dan child-bearing hips kelihatan biasa-biasa aja di awal anime, tetapi menjadi makin adorable seiring waktu. Hakuya yang awalnya bikin saya kesel karena terlalu stoic, malah berubah bikin saya gemes karena absentmindedness dia yang menuntun pada beberapa perilaku yang membuat Kobeni tak berkutik. Kakak perempuan Kobeni, Yonomori Benio, yang *juga* sempat membuat saya sedikit jengkel karena two-faced personality yang dimilikinya, ternyata berubah menjadi sumber kekonyolan karena interaksinya dengan kerabat dan temen-temennya. Daaannnn...!! Finally, Mashiro sukses melengkapi anime ini dengan infinite cutenessyang tak terbantahkan!!

Dari situ juga bisa saya simpulkan kalau development (mudah-mudahan nggak bosen baca kata ini XP~) karakter-karakternya dibangun dengan baik, steady, dan cukup nonjok di akhir. Kobeni yang awalnya risih dengan perjodohan akhirnya perlahan terbuka dan menerima Hakuya sebagai pasangannya. :3~

Plus aura anget-anget dan lucu nyaris di segala penjuru, anime ini dapat menjadi hiburan pelepas penat tanpa harus ada bumbu mesum bin laknat! Yep, anime ini sukses membuktikan bahwa nggak selamanyaromance itu harus kissing ataupun melakukan hal yang aneh-aneh. Mantep deh. d(≧∀≦)b 
KYAAAAAA~ #plak
Well... saya memang seneng liat scene princess carry gini sih. d(≧∀≦)

Kelebihan ketiga!

Ini adalah "bumbu" tambahan yang menambah "kelezatan" anime ini, berhubungan dengan suara. Bicara secara spesifik, ada 2 hal dalam kategori suara yang menyusun poin kelebihan ketiga ini.

Pertama, seiyuu. Yang saya maksud adalah seiyuu Benio (Matsui Eriko) dan Mashiro (Yoshida Yuuri). 

Untuk Mashiro, saya nggak bisa menyangkal kalo suaranya sukses mengangkat sang seiyuu masuk dalam jajaran pengisi suara loli-loli basah versi Lunatic Moe setelah Ogura Yui, Hidaka Rina, dan Kuno Misaki. Bukan sok diimut-imutin, tapi imut beneran secara alamiah dan khas.

Nah, untuk seiyuu-nya Benio ini... terlalu bahlul! Seriously, saya nggak bisa menjelaskan secara detail kayak gimana suaranya, tapi yang jelas amat sangat konyol sewaktu-waktu (kalo memang waktunyascene geblek bin kocak). Sukses bikin saya ngakak nggak karuan!

Kedua, musik. Opening theme-nya, Tomadoi Recipe, serta ending theme-nya, Masshiro World, sukses masuk playlist saya hingga hari ini. 

Tomadoi Recipe terdengar ringan, catchy, dan lucu, plus liriknya terasa manis karena menyebutkan beberapa jenis pastry. Masshiro World, berhubung dinyanyikan oleh Yoshida Yuuri sebagai vokalis utama, maka jadinya ya... too damn adorable! Junky, sang composer, memang jago kalo udah berurusan menciptakan lagu yang unyu manis-manis gini~ :3~

Saya juga merekomendasikan SEMUA lagu yang ada di single OP dan EDnya untuk didengarkan. Silakan beli/download. d(≧∀≦)
What the heck with this loli... even her angry pose is too damn cuuuuute

Bicara artwork, saya sebenernya... sebenernya... SUKA BANGET, terlepas dari aura bland yang saya katakan sebelumnya. Seriously, desain karakter-karakter (kecuali Hakuya) terasa dahsyat level moe-nya. Gambar-gambar yang ditaruh sebagai eyecatch juga lucu-lucu banget! Jujur aja, sesekali saya merasa terdorong untuk memeluk monitor... (@__@)
Salah satu contoh eyecatch yang dimaksud


Kelemahan? Tentu ada. Memang cuma 1, tapi tergolong fatal bagi saya.

Pencampuran elemen-elemen cerita yang kurang nge-blend.

Di episode-episode awal, saya disuguhkan tense yang menggenggam erat perhatian saya. Tentang misteri masa lalunya Kobeni, kenapa Hakuya cuma pengen nikah sama Kobeni, asal-usul Hakuya dan Mashiro, dst. Alasan saya mengikuti hingga 6 episode awal adalah karena hal ini. Dan semuanya terjawab sudah sebelum total episode berjalan seluruhnya.

Nah, setelahnya, saya disuguhkan romcom ala anime tanpa sedikitpun ketegangan di dalamnya. Memang bagus, lucu, dan sesekali sukses bikin saya pengen gigit mouse karena saking gemesnya. Tapi alasan saya untuk mengikuti anime ini setelah episode 6 berubah menjadi "pengen ngikutin anget-angetnya".

Kesimpulannya, border elemen cerita nampak TERLALU jelas. Setengahnya menceritakan something serious (jujur, volume ketawa saya nggak seberapa di 6 episode awal karena terlalu fokus ke misteri yang ada), tapi setengahnya lagi berbalik 180 derajat menceritakan sesuatu yang light-hearted tanpa ada tense yang menggigit. Menurut pendapat saya, lebih baik kalau dua elemen itu (serius dan unyu-unyu) nggak dibikin terpisah terlalu jelas ATAU hilangkan elemen seriusnya sekalian. 

Kembali ke analogi masakan. Anggaplah anda memasak tahu bacem dan spaghetti carbonara di panci terpisah, lalu makanlah keduanya secara maraton tanpa ada jeda antar makanan. Meski 2-2nya dimasak dengan sempurna, pasti aneh rasanya di lidah. Kira-kira begitulah yang saya rasakan di anime ini. Seandainya lebih nge-blend, saya berani tambah 0,8-1 poin lagi!

Kalo ada yang nanya, "Kenapa nggak fokus ke romance comedy-nya aja dari awal?", maka jawaban saya cuma satu: nggak bisa. Segala hal tersembunyi dan misterius di cerita selalu menggoda saya untuk fokus ke situ. (@__@)
Ini imouto.
Ini okaa-san. Know the difference.


---------------

Rating:

8.0/10 (B rank) buat Nasikuning Ikankuning Mikakunin de Shinkoukei karena pengolahan plot yang cukup baik, karakter-karakternya yang sangat menarik, plus seiyuu beberapa karakter utamanya yang meski belum banyak mengisi suara di anime lain sebagai karakter utama, namun berhasil memberikan aura tersendiri bagi anime ini. Nggak lupa juga untuk kumpulan soundtrack-nya yang legit~ Rattatta rattatta fuu fuu~  (≧∀≦)

Direkomendasikan bagi para pecinta anime romance comedy yang hangat dan ringan. Para lolicon juga boleh nonton deh, Mashironya itu lho... XD~
Aku telbang duyu yaa~ Mau nulis review selanjutnyah~  #dilemparsapu

***

[Review Anime] Nagi no Asukara

Kiri ke kanan: Chisaki, Sayu, Kaname, Miuna, Tsumugu, Hikari, Manaka
And actually this pic is a great spoiler...





Ngelantur Sebentar:

"I want more drama!"

Begitulah yang timbul di kepala saya beberapa waktu lalu. Jujur, meski bisa suka genre drama romance, saya sendiri lupa kapan terakhir kali nonton anime drama romance minim komedi dengan bumbu science fiction/fantasy. Let's see... AnoHana? Ano Natsu de Matteru? Kokoro Connect?  (GILA, UDAH LAMA BENER YAK KWOAKEOAKWOAKE )

凪のあすから; Nagi no Asukara. Keteduhan Dari Hari Esok.

Entah apa alasannya saya mendadak keinget anime yang satu ini. Padahal sewaktu pertama kali airing, saya bener-bener nggak melirik anime ini. Alasannya? Karena waktu itu lagi merasa nggak butuh dosis drama. Nah begitu butuh, download deh. Tanpa ragu, langsung sikat nonton maraton seharian.

Dan saya AMAT SANGAT TIDAK MENYESAL nonton anime ini. #nangisgulingguling



Sinopsis:

Sakishima Hikari, Mukaido Manaka, Hiradaira Chisaki, dan Isaki Kaname adalah 4 orang anak 14 tahun penghuni bawah laut yang merupakan sahabat akrab sejak kecil. Setelah sekolah bawah laut mereka ditutup, keempatnya pindah ke sekolah di daratan. Pertemuan keempatnya dengan seorang siswa daratan, Kihara Tsumugu, pun mengubah segalanya, khususnya apa yang ada dalam hati masing-masing.
Dikit lagi ditelen bulet-bulet... #plak


Review:


Saya akan mulai dengan beberapa pertanyaan.
  1. Pernah nggak, Anda suka sama seseorang, tapi orang itu ternyata suka dengan temen baik Anda sendiri?
  2. Pernah nggak, Anda confess sama seseorang, padahal sudah tahu bakal ditolak karena satu dan lain alasan, just for the sake of relieving yourself?
  3. Pernah nggak, Anda terus-menerus mengaku suka sama seseorang, padahal Anda jelas-jelas jauh lebih deket sama orang lain dan merasa amat sangat nyaman dengannya, tanpa sadar sejak kapan kenyamanan itu tercipta? 
  4. Pernah nggak, Anda terlalu fokus suka sama seseorang yang *pada akhirnya* menolak Anda, sampai-sampai Anda nggak menyadari kalau ada orang lain yang menganggap Anda sebagai orang yang spesial dan selalu setia memandang diri Anda dari kejauhan?
  5. Pernah nggak, Anda suka sama seseorang yang Anda kenal dari kecil, tapi SUSAH banget untukconfess sama orang itu? 
Kalo Anda pernah mengalami 2 atau lebih di antara gejala-gejala di atas, segera periksakan ke psikiatersaya nyatakan Anda siap untuk "nyemplung" ke dalam suasana emosional anime ini. Kalo nggak pernah satupun, well... kasian deh lu nikmati sajalah! Animenya bagus kok~ d(≧∀≦)

Format biasa yah. Kelebihan!

Welcome to Bikini Bottom! #ngaco #salahtempat

Pertama, visual. 

Studio P.A. Works kembali menghadirkan sesuatu yang terlalu amazing untuk dilewatkan kecuali Anda penyandang disabilitas mata atau mungkin bintitan. Nggak bisa saya deskripsikan banyak-banyak, pokoknya silakan lihat sendiri betapa indahnya Bikini Bottom desa bawah laut Shioshishio dan sisik-sisik berkilauan yang menari di kedalaman. Desain karakternya juga oke, dengan seragam ijo-putih yang... HNNNGGGGG~ Plus, siput lautnya lucu... (≧∀≦) (padahal mah binatang aslinya bikin geli-geli somplak)


Kedua, sistem. 

Seriously, perpaduan legenda dan timeline masa kini alternatif yang disuguhkan bener-bener bikin saya jatuh hati! Hebatnya lagi, saya nggak menemui satupun hal mengenai sistem yang tidak dijelaskan, nggak ada sedikitpun yang bolong. Diceritakan secara gamblang, simpel, dan bercampur sempurna dengan flow alur tanpa mengganggu flow emosi yang ada.


Ketiga, elemen.

Komplit, unik, dan perfectly concluded! Baik yang menggelitik logika maupun yang memeluk perasaan, keduanya ada di anime ini. Elemen time skip yang ada bener-bener sukses menjadi modal bagi plot dandevelopment untuk berkembang keren gila-gilaan dan berhasil mengaduk-aduk perasaan. Segala konflik juga selesai tuntas tas tas TASSS! Masalah hubungan antar karakter-karakternya selesai (siapa dapet siapa, siapa yang nggak dapet siapa-siapa), orang-orang darat dan laut sukses berdamai, dunia terselamatkan, dan hebatnya... misteri pada legenda masa lalu yang menjadi fondasi cerita juga diakhiri dengan konklusi yang klik!


Keempat, efisiensi.

Ke-26 episode 100% BERHASIL menjadi rangkaian cerita utuh tanpa ada satu episodepun yang tidak berguna. Bahkan saya berani mengatakan, NGGAK ADA SATUPUN MENIT PADA PLOT YANG TERBUANG SIA-SIA! Tiap menitnya (MENIT!) selalu mengantarkan saya pada level plot/character development yang lebih sakinah, mawaddah, dan warrahmah yang lebih baru dan berkembang. Eksekusi plot yang padat dan super efisien ini... beneran, jarang BANGET ada di anime-anime jaman sekarang yang sangat terindustrialisasi. Well... mungkin karena anime original juga ya. Jadi udah dirancang bener-bener paten dari awal supaya 26 episode ceritanya ini ini ini dengan ending begini. Kalo hasil adaptasi dari media lain pasti ada yang entah dipangkas entah ditambah-tambahin supaya muat dengan jatah slot 12/13/24/26 episode.

Uuuhh... I wanna be the sea slug...
Kelima, eksekusi dan ide.

Idenya... serius, klasik. Klasik banget, hampir kayak dongeng-dongeng jaman dulu. Tapi! Eksekusinya bener-bener sadis, keren abis! Kadar racikan bumbu sweet, heartwarming, sad, and sorrow-nya juga pas BUANGET. Kembali ke analogi masakan, "bahan utama"nya murah meriah, tapi "bumbu-bumbu" dan  "tingkat kematangan" yang dihasilkan begitu sempurna! Jadilah "hidangan" anime yang maknyus, sangat cocok disantap oleh jiwa-jiwa galau yang lapar.


Keenam, bom. Eh... "ledakan" dalam cerita.

Bisa saya bilang kalau hal ini adalah salah satu special move dari sebuah film/anime drama. Saya kasih contoh adegan:
A: "Sebenernya... aku suka sama C..."
B: "Oh ya? Aku denger padahal C sukanya sama D."
A: "Iya, makanya kamu jangan ngomong-ngomong ke D---"
Dan si D, yang merupakan temen akrab A dan B, tiba-tiba udah berada dalam posisi di deket keduanya, sempet denger pembicaraan. BHUMMMM!!!

Bagi sebagian orang, trik itu basi dan biasa. Tapi kalo buat saya pribadi, nggak. Jika penempatannya sangat tepat, maka dapat menjadi efek kejut yang menggebrak. Dan itulah yang ada di anime ini.Timing-nya dalam "menjatuhkan bom" begitu sempurna dan nggak bisa diprediksi, sampai-sampai saya refleks berseru, "NHAAAAA... ketauaaannn... JRENNGGGG".


Ketujuh, the finale...

KARAKTER!

Saya harus kasih applause buat para staff P.A. Works sebanyak bilangan Avogadro untuk hal ini. Inilah yang memungkinkan Nagi no Asukara menjadi drama romance dengan hembusan flow emosi yang bikin saya galau total. Seluruh karakter utamanya berhasil menjerat empati saya secara maksimal! Jujur, nggak keitung berapa kali saya nangis dari episode 1-26... (>__>)

Dan terpaksa... saya harus menggunakan border keramat ini lagi.

===SPOILER ALERT===


Kemarilah dan akan kupeluk kalian! #bletak
First male protagonist, Sakishima Hikari. Pusat penyelesaian segala perkara di anime ini, seorangwarrior of love yang akan melakukan apapun demi kebahagiaan orang yang dicintai (cie... cieee.. CIEEEEE #plak) meski dia ngeliat kalo orang yang disukainya punya tanda-tanda suka pada salah satu temennya sendiri.

Setelah time skip, sifat gigihnya itu kembali ditunjukkan demi melakukan ritual necromancy melihat orang yang disukainya bisa "bangkit" kembali. Saking gigihnya, dia nggak nanya-nanya dulu tentang kebenaran segala sesuatunya. Dia juga terlalu fokus sama orang yang disukai, sampai-sampai nggak nyadar kalau ada DUA cewek lain yang menyimpan perasaan terhadap dirinya. Emm... terlalu fokusnya emang mirip-mirip saya sih... (@__@) cuma saya agak males aja buat usaha sekeras dia 
Berantem yuk? :3
First heroine, Mukaido Manaka. Seorang cewek berpostur petite berkelakuan cukup unyu bersuara moe-moe basah (Hanazawa Kana gitu lohhh...). Tidak bisa disangkal kalau dialah pemicu segala perkara di anime ini. Cukup dengan dirinya menunjukkan tanda-tanda suka pada temen daratannya, plot pun mulai terbentuk. Bahkan hanya dengan menampilkan sedikit "keraguan yang dirahasiakan" (apakah perasaannya beneran cinta atau sekedar kagum), pelatuk pun ditekan, menembak jalan cerita sehingga terbentuk klimaks pertama.

Setelah time skip, sleeping beauty yang satu ini tetap tertidur hingga 3/4 total episode berjalan, terbangun dengan cara yang... cukup bikin saya nyeletuk, "Heh?". Namun lagi-lagi, kehilangan "sesuatu hal" yang dialaminya setelah terbangun dari tidur sukses mengobrak-abrik plot, mengarahkannya menuju klimaks kedua, bersamaan dengan terungkapnya "keraguan yang dirahasiakan" yang ditunjukkannya sebelum time skip. Well... actually, saya punya kelakuan yang beda tipis dengan main heroine. Sekedar kagum? Beneran cinta? Ataukah karena batas antara 2D dan 3D yang udah agak nge-blur buat saya?
Hayo... lagi ngapain kira-kira ini... :P
Second heroine, Hiradaira Chisaki. Berlawanan dengan Manaka, posturnya tergolong bagus untuk cewek-cewek seusianya with curves and 'plot'. Seseorang yang cuma bisa memandang Hikari dari kejauhan, karena dia tahu kalo Hikari cinta mati sama Manaka. And she's confessed to Hikari just for the sake of relieving herself setelah dirinya 'ditembak' oleh orang lain.

Sebagai satu-satunya orang laut yang berubah setelah time skip, Chisaki pun punya waktu tambahan untuk terus bersama dengan seseorang yang juga berubah. Heroine paling batu dan indecisive di anime ini dalam urusan perasaan. Meski terus-menerus mengaku kalo dirinya suka sama Hikari, tetapipractically dia JAUH lebih nyaman bersama seseorang yang juga berubah tersebut tanpa menyadari sejak kapan perasaan nyaman itu muncul. Pada akhirnya... bisa ditebak ya? Dan seandainya saya diperhadapkan dengan skenario yang sama dalam hidup, saya mungkin bisa menjadi JAUH lebihindecisive dari Chisaki. Mulut sih terus ngomong si A, tapi hati nyaman ke si B... ~!@#$%^&*()_+ nge-harem aja deh kalo gitu.
Scene wajib nangis 1 - Part I
Second male protagonist, Isaki Kaname. Bishounen yang satu ini awalnya terlihat nggak begitu berpengaruh pada plot, bahkan boleh saya katakan "setengah figuran" di beberapa episode awal. Namun segalanya berubah ketika confession-nya pada Chisaki menyerang. Melesat lurus menuju hati sang 2nd heroine, yang pada akhirnya berimbas juga pada Hikari dan Manaka.

Mengetahui Chisaki yang berubah, cowok yang satu inipun menjadi lebih agresif dalam melakukan serangan-serangan ke jantung pertahanan lawan. Sayangnya, semuanya masih membentur mistar hati sang pujaan (maap, World Cup effect XD).  Mirip-mirip sama Hikari, dia terlalu fokus pada Chisaki dan parahnya, digantungin tanpa ada kata "NO" yang lugas. Karena sejak awal dia sering merasa "paling nggak cocok sendiri" sama ketiga temennya yang lain, seringkali dia ngerasa sendirian meski nggak pernah ditunjukkan. Kesabarannya berbuah hasil yang memuaskan, mendapatkan grand prize seorang cewek yang selalu memandang dia dari kejauhan. Emm... and I really understand his loneliness. #nangisdarah
Hello, girl. I have come.
Third male protagonist, Kihara Tsumugu, yang kelihatannya merupakan orang disukai Manaka di awal-awal. Makhluk daratan ganteng bin cool yang satu ini bisa saya katakan adalah yang paling "tersembunyi" karena nggak pernah terlihat menunjukkan emosinya. Selalu pasang muka datar, dan gaya bicaranya juga beda total dengan Hikari. Butuh kejelian ekstra untuk tahu siapa sebenarnya yang dia sukai kalo mengamati 13 episode awal. Ada beberapa subtle clue di situ, tapi sekali miss, Anda harus nonton terus sampai 23 untuk tahu (ingat, tiap menit begitu berharga di anime ini --- so, focus!). 

Time skip membawa berkah buat Tsumugu, seseorang yang juga berubah selain Chisaki. Permintaan kakeknya yang mengajak Chisaki tinggal bareng serumah (isi rumahnya jadi Tsumugu, kakeknya Tsumugu, plus Chisaki) menjadikan dirinya sebagai karakter utama pertama di anime ini yang mendapatjackpot. Meski demikian, nggak ada tanda-tanda di anime yang menunjukkan kalo dirinya dan Chisaki pernah pacaran apalagi bikin kelakuan "aneh-aneh" (please throw aside your dirty mind). Kerennya lagi, dia mendeklarasikan secara jujur dan lantang perasaannya pada Chisaki sewaktu sedikit ada konflik dengan Hikari, kemudian mengatakannya empat mata pada si cewek yang dimaksud. So gentleman!Udah gitu bisa jadi pendengar dan penyimpan rahasia yang baik pula. #sembah
Scene wajib nangis 1 - Part II
Third heroine, Hisanuma Sayu, yang baru bisa digolongkan sebagai main heroine setelah time skip. Seorang yang pada awalnya hanyalah loli biasa yang sedikit annoying dan bandel, namun berhasil ditaklukkan oleh Kaname. Meski Kaname cuma memberikan perlakuan yang simpel, namun efek jangka panjangnya membekas banget buat Sayu. Sejak saat itulah loli yang satu ini menyimpan perasaan pada Kaname.

Time skip menjadi kesempatan bagi dirinya untuk berkembang lebih baik. Terinspirasi cinta masa kecilnya, Sayu berubah menjadi seorang cewek rajin dan pinter, semata-mata supaya dirinya nggak dianggap anak kecil lagi oleh pujaan hatinya, Kaname, seandainya cowok itu terbangun. Dan... penantiannya nggak sia-sia setelah memendam perasaan tersebut sekian lama. Cewek inilah yang saya bilanggrand prize bagi Kaname. Ah... first love is really beautiful... especially from childhood ones... #nangisbeling
Her smile is too... uuugghhh... #kejang
Best of the best of the best of the best girl of the show sekaligus temen baik Sayu, Shiodome Miuna. Sama seperti Sayu, Miuna nggak bisa saya katakan main heroine sebelum time skip terjadi. Dan 11-12 dengan Sayu, Miuna juga punya seorang childhood crush, yaitu sang main protagonist, Hikari. Sebelumtime skip, diceritakan bahwa Akari, kakaknya Hikari, menikah dengan papanya Miuna (ibu kandungnya diceritakan udah meninggal sebelum timeline di cerita). In the other words, Miuna suka sama paman tirinya sendiri. Tapi rapopo toh kalo om tiri? :P

Mirip dengan kasus Sayu, Miuna juga terus sabar menunggu hingga Hikari terbangun. Sampai di sini, bisa saya katakan nggak sia-sia karena dialah salah satu orang yang menemukan Hikari pertama kali setelahtime skip. Keseriusannya pada Hikari juga ditunjukkan dengan menolak temen sekelasnya yang confesspadanya. Namun naas, segalanya nggak berjalan sesuai harapan Miuna. Perasaan sukanya pada Hikari terus ditekan dan disembunyikan (meski akhirnya ketauan dalam suatu krisis), karena dia tahu Hikari cuma punya satu orang di hati: Manaka. Seriously... she deserves a far better reward.  JADI KAYAK MIUNA ITU SAKIT TAU GAK! SAKITTTTT!!!! UDAH NUNGGU LAMA, EH NGGAK DAPET!!!!! ARRRGGGGHHHSERIOUSLYYYY WHYYYYYY  щ(゚Д゚щ) #curcol

===SPOILER END===


tl;dr version: problem-problem yang ditonjolkan tiap karakter terasa begitu alami dan banyak dialami oleh orang-orang di dunia nyata (including myself). Tambah bumbu fantasy, heboh sudah anime ini. d(≧∀≦)b 

Mungkin Anda akan pernah melihat/mendengar beberapa komentar yang menganggap garis relationship dari ketujuh orang karakter utama terbilang kusut, ribet, simpang siur, dll-nya. Tapi saya katakan,TIDAK. Justru di sinilah keunikannya. Kalau anime ini cuma berkisar tentang Hikari x Manaka semata, saya nggak yakin kualitas dramatisasinya akan sebaik ini. Yakin deh, pasti jauh di bawah. Lagipula baru juga 7 orang, masa nggak sanggup? :P


Lanjut ke audio!

Seiyuu, no problem. Semuanya terasa cocok dan nge-blend dengan karakter masing-masing. Kalo OST...sorry to say, bukan selera saya. Secara objektif bagus-bagus kok, baik opening dan ending theme 1 dan 2. Cuma kalo bagi telinga saya, semuanya itu bukan sesuatu untuk didengerin sehari-hari. Kalo dirasa cocok dengan selera Anda, jangan ragu untuk beli/download.
Scene wajib nangis 2 - dengan catatan khusus


Tujuh kelebihan nggak menjamin Nagi no Asukara nggak punya kelemahan sama sekali. Emm... bukan kelemahan juga sih, cuma 1 yang bisa dianggap kelemahan. Yang 2 lagi lebih ke arah "annoying factor".

Satu hal yang bikin nilai Nagi no Asukara nggak bisa mencapai 9.7, 9.8, 9.9, apalagi 10: garis plotnya terlalu sederhana, twist nggak menggigit. Cukup nonton beberapa episode awal, ketebak sudah siapa akan jadian sama siapa (cuma yang nggak dapet siapa-siapa yang saya agak ragu karena sempet ngareptwist), tinggal mengira-ngira alasan gimana jadiannya. Untuk orang yang cukup memperhatikan subtle clue, semuanya sudah ketahuan bahkan sebelum episode 13 (termasuk untuk Sayu!). Seandainya adatwist menggebrak (contoh sederhana: ada yang mati, ada yang rebutan sampe perang-perangan tapi yang dapet malah yang nggak ikutan perang, atau main protagonist malah jadi sama yang lain), anime ini langsung saya lempar pake angka 9.9. Untung aja ngaduk-ngaduk emosinya cukup jago... jadi faktor ini nggak bikin anjlok-anjlok banget.

Langsung ke annoying factor pertama: hampir setiap episode pasti ada yang nangis. Sumpeh deh, sesensitif-sensitifnya saya, segampang-gampangnya saya nangis kalo nonton sesuatu yang menyentuh... kalo keseringan ditampilin scene nangis itu keterlaluan. Seakan-akan para karakter di sini lemah banget.

Annoying factor kedua adalah ciri dalam drama yang saya nggak suka: lagi adu argumen, eh... yang satu ngambek, marah, TERUS LARI KABUR dari TKP, entah yang cowok ataupun yang cewek. Ini BERKALI-KALI saya temui di dalam animenya. Kalo saya pribadi prefer 2 karakter itu bacot-bacotan sekeras mungkin di TKP (sampe si cowok digampar si cewek juga nggak masalah), yang penting yang mau diomongin bisa tuntas.
And they live happily ever after.

---------------



Rating:

9.6/10 (S rank) buat Nagi no Asukara untuk keindahan visualnya, kelengkapan sistem dan elemen-elemen, cerita yang padat berisi tanpa plothole, serta karakter-karakternya yang memorable dan sukses memainkan flow emosi secara sempurna.

Direkomendasikan untuk para pencari anime drama.romance yang serius tanpa banyak basa-basi with zero filler, plus fantasy.

Thanks for... reading... *sob*

***